Sejarah Kota Rangkas Bitung
Rangkas Bitung adalah ibukota dari kabupaten Lebak Banten. Kata Rangkas Bitung berasal dari kata Rangkas dan Bitung. rangkas artinya "patah " dan bitung adalah nama dari pohon bambu. Konon dahulu kala di daerah yang bernama Rangkas Bitung tersebut banyak ditumbuhi dengan pohon bambu atau awi bitung. Penduduk daerah tersebut sangat terbantu perekonomiannnya dengan tumbuhan bambu tersebut sehingga mereka begitu memuja pohon bambu tersebut dan mengkramatkan pohon tersebut dengan diberi sesaji. Kemudian datang seorang ulama yang menasehati penduduk daerah tersebut untuk tidak lagi mengkramatkan pohon bambu tersebut tetapi penduduk daerah tersebut tidak ada yang menuruti nasehat ulama tersebut malah mereka mengusir ulama tersebut. Sang Ulamapun pergi dengan sedih tetapi tak lama kemudian angin kencang menderu-deru menumbangkan pohon -pohon bambu dan menimpa rumah dan penduduk. Akhirnya Ulama tersebut mendirikan pesantren dan untuk mengingatkan akan kejadian musyrik yang dilakukan penduduk daerah itu dinamakan Rangkas Bitung.

Stasiun Rangkas Bitung
Hari ini tanggal 26 Oktober 2019 ,saya mengikuti trip bersama komunitas jalan-jalan
Indonesia Hidden Heritage ke Rangkas Bitung. Seperti namanya Komunitas jalan-jalan ini menyusuri obyek -obyek peninggalan sejarah di Indonesia. Ikut komunitas ini secara tidak sengaja juga , awalnya ngajak teman SMA yang biasa jalan bareng untuk ngebolang terus dia nawarin event yang diadakan oleh komunitas itu ehhh malah dianya nggak bisa ikut. Nggak ada teman yang bisa diajak tidak menyurutkan niat saya untuk berpetualang ke Rangkas Bitung.Pengalaman baru buat saya untuk jalan bareng orang lain yang belum dikenal.
Perjalanan menuju Rangkas Bitung dari Stasiun Kebayoran Lama membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Jam 10 kami tiba di Stasiun Rangkas Bitung.Sayangnya kereta yang melayani jalur Tanah Abang - Rangkas Bitung hanya ada satu jam sekali sehingga kita harus benar- benar memperkirakan waktu.
 |
| Stasiun Rangkas Bitung tampak depan |
 |
| Bangunan Stasiun yang masih asli |
Stasiun Rangkas Bitung merupakan salah satu stasiun tua yang dibangun pada masa penjajahan Belanda yaitu pada tahun 1900. Stasiun Rangkas Bitung ini merupakan stasiun terbesar di Provinsi Banten yang terletak di Muara Ciujung Timur , Rangkas Bitung Kabupaten Lebak.
Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan ke luar stasiun di pagi menjelang siang yang cukup terik. Tujuan pertama kita adalah bekas bangunan Pabrik Minyak Mexolie.
 |
| reruntuhan pabrik minyak mexolie |
Pada jaman kolonial Belanda pabrik minyak ini mencapai masa kejayaannya. Pabrik ini juga dilengkapi dengan kantor dan rumah dinas pegawai pabrik.
 |
| bangunan bekas pabrik yang dibiarkan terbengkalai |
Dan kini reruntuhan bangunan itu masih terbengkalai. Bangunan rumah dinas pegawai pabriknya pun sudah beralih fungsi menjadi Rangkas Bitung Indah Plaza.
 |
| komplek perumahan pabrik yang sudah menjadi mall |
Semoga pemerintahan Kabupaten Lebak dapat merevitalisasi bangunan pabrik minyak itu menjadi cagar budaya yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sana.
 |
| Selfie di reruntuhan pabrik |
Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan kota Rangkas Bitung yang tenang sambil melihat bangunan bersejarah lainnya
 |
| Taman Makam Pahlawan Sirna Rana |
 |
| toren besar |
 |
Taman Hati
|
Seperti kota -kota lainnya , Rangkas Bitung juga berbenah dengan melengkapi kotanya dengan sebuah taman. Taman Hati namanya. Di bawah kepemimpinan Bupati Lebak Ibu Iti Oktavia Jaya Baya , Rangkas Bitung kini lebih cantik dengan dilengkapi sarana dan prasarana yang ciamik.
Kita berkesempatan juga mengunjungi Gedung DPRD Kabupaten Lebak Lhooo .
 |
| Aula Multatuli |
 |
| Halaman kantor DPRD yang rindang |
 |
| bergaya bak Para Mentri yang baru dilantik |
Mempelajari sejarah kota Rangkas Bitung atau kabupaten Lebak tidak lepas dari nama besar Eduard Douwes Dekker yang terkenal dengan bukunya Multatuli yang mengguncang pemerintahan Kolonial Belanda . Sebelumnya .Douwes Dekker menjabat sebagai asisten residen Lebak Selatan yang bertempat di Rangkas Bitung pada Januari 1856. Sebagai seorang asisten residen , Douwes Dekker sangat prihatin atas keadaan rakyat Lebak yang ditindas oleh penjajah Belanda pada saat itu. Karena bentrok dengan atasannya , Douwes Dekker berhenti bekerja dan kembali ke Belanda. Kemudian Douwes Dekker mengarang novel yang berjudul Max Havelaar. Isi novel tersebut sangat menggemparkan terutama di negerinya sendiri. Douwes Dekker menggunakan nama pena Multatuli yang artinya banyak yang aku sudah derita.Max Havelaar berisi kritikan terhadap perlakuan Hindia Belanda terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda. Salah satu kisah dalam novel Max Havelaar adalah kisah Saidjah dan Adinda. Kisah tersebut menggambarkan penderitaan rakyat yang sengsara akibat beratnya pajak yang dibebankan Kolonial Belanda kepada rakyat Lebak.
Karena jejak sejarah tersebutlah maka Pemerintahan Kabupaten Lebak kini mendirikan museum baru yang bernama Museum Multatuli.
Museum yang terletak tak jauh dari alun-alun ini diresmikanoleh Bupati Lebak Iti Oktavia Jaya Baya dan Dirjen Kebudayaan Hilmar farid pada tanggal 11 Februari 2018.
 |
patung Multatuli , Saidjah dan Adinda
|
 |
ruang depan museum
Begitulah jejak Multatuli dalam sejarah Lebak Banten yang mampu mengguncang dunia dengan tulisannya. Berkat tulisannya , Pemerintah Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi di mana Pemerintahan Belanda mengizinkan rakyat pribumi untuk dapat bersekolah . Buku Max havelaar menjadi bacaan wajib sekolah -sekolah di Belanda. Isi cerita dalam buku Max Havelaar masih relevan dalam kehidupan Indonesia sekarang menyentil para pejabat yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Multatuli adalah orang pertama yang membunuh kolonialisme. Melalui tulisannya , Multatuli menginspirasi tokoh -tokoh Nasional untuk berjuang melawan penindasan Kolonialisme.
Sekian tulisan saya semoga menambah pengetahuan bagi pembaca. Kritik dan sarannnya saya harapkan.
|
Comments
Post a Comment